Bahaya Pendapat sesat KH Imaduddin
1. Apa yang Dilakukan KH Imad? (Secara Umum)
Jika yang dilakukan adalah:
• Menyerang nasab keturunan Rasulullah SAW tanpa ilmu
• Menuduh para Habaib atau Ahlul Bait sebagai pembohong atau penipu
• Mempublikasikan tuduhan itu ke masyarakat luas, hingga menimbulkan syubhat dan kebencian terhadap dzurriyyah Nabi SAW
Maka perbuatan ini masuk kategori bahaya besar dalam syariat.
2. Hukum Syari’at Terkait Perbuatan Tersebut
A. Menyakiti Ahlul Bait
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa menyakiti Ahlul Baitku, maka sungguh ia telah menyakitiku.”
(HR. Thabrani – hasan)
Menyakiti Rasulullah SAW adalah dosa besar, dan termasuk perbuatan yang bisa menyeret kepada laknat jika dilakukan dengan kesengajaan.
B. Tuduhan Tanpa Ilmu (Buhtan)
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya…” (QS. Al-Isra: 36)
“Barangsiapa menuduh seseorang dengan sesuatu yang tidak benar, maka ia akan disiksa di neraka sampai ia mencabut tuduhannya.” (HR. Abu Dawud)
Menuduh seseorang mengaku-ngaku keturunan Nabi tanpa bukti ilmu nasab atau sidang syar’i = ghibah, buhtan, dan perendahan kehormatan = dosa besar.
C. Menebar Fitnah terhadap Simbol Islam
Menyebarkan opini bahwa “keturunan Nabi hanyalah rekayasa sejarah”, akan mengikis cinta umat terhadap Rasulullah SAW—ini adalah penghinaan terhadap lambang agama yang sangat berbahaya.
3. Jadi, Apakah Ini Dosa Besar?
Jawaban: Ya, bisa menjadi dosa besar—bahkan sangat besar—jika:
• Ia melakukannya tanpa ilmu
• Ia menyebarkan ke publik dan menimbulkan keraguan dan kebencian umat
• Ia melukai kehormatan keluarga Rasulullah SAW
• Ia menolak klarifikasi dari ulama nasab, Ahlul Bait, dan lembaga resmi
Namun… Tetap Ada Pintu Taubat
Kita tidak menghakimi hati seseorang, tapi perbuatannya yang terang dan membahayakan.
Jika KH Imad:
• Menyadari kekeliruannya
• Menarik kembali pernyataan tersebut
• Bertaubat dan meminta maaf kepada keluarga Ahlul Bait
Maka rahmat Allah sangat luas.
Nasihat Terakhir:
“Barangsiapa yang tidak memuliakan keturunan Nabi, maka hatinya akan dicabut keberkahan.”
(perkataan Imam Malik)
Comments
Post a Comment