KeAliman KH Imaduddin yang telah diakui dunia

 Tentu. Berikut adalah perbandingan bergaya satire elegan antara K.H. Imaduddin Utsman al-Bantani — penulis tesis yang meragukan nasab para Habib — dengan tokoh-tokoh besar ilmu nasab tingkat dunia, yang sudah diakui lintas mazhab, negara, dan zaman.


Ditulis dengan gaya “sindir halus berbasis fakta”, ala khazanah intelektual klasik:




Kapan Gajah Menyatakan Bayangan Burung Itu Salah?


(Sebuah Dialog Imajinatif di Majelis Ilmu Nasab)




Di satu sisi majelis…

Duduklah para penjaga nasab umat, ulama besar yang tinta mereka sudah menjadi rujukan para mufti dan sultan:

Imam Ibn Ḥajar al-Haytamī, penulis Aṣ-Ṣawā‘iq al-Muḥriqah,

Imam as-Suyūṭī, sang penghidup cinta kepada Ahlul Bait,

Syaikh al-Mashhūr, sang pewaris sanad nasab Bā ‘Alawī Hadhramaut,

Dan Ibn ‘Inābah, pakar nasab Syiah yang bahkan tak menyanggah Bā ‘Alawiyyīn.


Mereka duduk bersanad, berjilid, bersilsilah.


Lalu masuklah seseorang dengan tesis 130 halaman.

Namanya belum tercatat dalam silsilah sanad nasab,

belum dikenal oleh Rabithah Alawiyyah,

tidak pula pernah disebut dalam daftar ahli ijazah muttashilah.


Namun, dengan penuh semangat, ia berdiri dan berkata:


“Wahai Imam Suyūṭī, Syaikh al-Mashhūr, dan seluruh mu’arrikh!

Nasab Habaib Hadhramaut telah putus! Karena saya tidak menemukannya di kitab abad ke-4!”


Lalu Imam Suyūṭī pun tersenyum, seperti gurunya tersenyum kepada Abu Jahm:


“Wahai anak muda, apakah kitabku belum cukup,

atau matamu yang tak cukup adab dalam membaca?”




Ibn Ḥajar berkata:


“Kami berbicara dengan rantai emas para mu’tabar,

sedangkan engkau berbicara dari guntingan Google Scholar.”


“Kami telusuri silsilah dari madrasah ke madrasah,

sedangkan engkau meragukan silsilah hanya karena tak viral di Youtube.”




Lalu berkata Syaikh Abdurrahman al-Mashhūr:


“Wahai pencari nasab dari luar sanad…

Kami di Hadhramaut menjaga silsilah ini selama 1000 tahun,

dengan darah, air mata, dan ijazah,

lalu engkau memutuskan semua itu dengan tesis satu musim?”


“Apakah kamu memeriksa kitab kami? Atau hanya menduga kami membuatnya untuk populer di undangan maulid?”




Lalu muncullah suara lembut dari Ibn ‘Inābah,

yang walau Syiah, tidak buta dalam ilmu:


“Aku tidak menulis semua nama anak Imam.

Tapi aku tidak pernah mengatakan mereka tidak ada.”


“Mengapa engkau menjadikan ketidaktahuanmu sebagai dalil putusnya nasab?

Apakah karena tidak kau lihat, maka itu harus hilang dari dunia?”




Dan akhirnya, datanglah al-Ḥasan al-Baṣrī,


membawa nasihat kepada sang pemuda tesis:


“Jika kamu tidak bisa mencintai anak cucu Nabi,

Maka diamlah — agar lidahmu tidak menjadi sebab hilangnya imanmu.”




Penutup:


Di satu sisi:

Ada para ulama ahli nasab, ber-silsilah, bersanad, bersyahādah umat.


Di sisi lain:

Ada satu tesis modern, lahir dari ruang seminar,

yang belum mendapat pengakuan Rabithah, masyaikh, ataupun ijazah dari Sayyid senior.


Namun kini, tesis itu menggugat silsilah yang dijaga selama 1000 tahun.


Maka siapa yang harus kita percaya?


Apakah gunting akademik yang tidak bersanad?

Ataukah rantai emas yang dijaga dalam kitab, dihafal dalam dada, dan disambung lewat ijazah hingga hari ini?




Sebab jika ilmu sudah tak disandarkan pada sanad,

Maka siapa pun bisa menjadi hakim, bahkan terhadap darah Nabi.


Na‘ūdzu billāh min dhalik.

Comments

Popular posts from this blog

memutus koneksi spiritual umat Islam dari akar risalah

Bahaya menyerang nasab Habaib Atas dasar Dengki

Menakar Kesahihan Nasab Habib di Indonesia