Surat Terbuka dari Keturunan Ahlul Bait kepada Mereka yang Menyerang Nasab Rasulullah SAW

الصلاة والسلام على سيدنا محمدٍ وآله الأطهار، الذين جعلهم رسولُ الله حبلَ النجاة إلى يومِ القرار


اللهم صلِّ على سيدنا محمدٍ، وآله الطيبين الطاهرين، الذين قال عنهم رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: «إني تاركٌ فيكم الثقلين: كتابَ الله، وعترتي أهلَ بيتي، ما إن تمسكتم بهما لن تضلوا بعدي أبداً».


اللهم اجعلنا من المتمسكين بحبهم، المتخلقين بأخلاقهم، السائرين على هداهم، والذابين عن شرفهم وكرامتهم إلى يوم نلقاك

Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, cahaya abadi yang menyinari segala zaman. Semoga rahmat-Nya senantiasa tercurah kepada keluarga beliau yang suci, para sahabat yang jujur, dan seluruh umatnya yang setia meneladani.


Wahai saudaraku yang menuduh,


Kami menulis surat ini bukan karena amarah, tapi karena cinta. Bukan karena takut, tapi karena ingin menyelamatkanmu dari bahaya ucapanmu sendiri. Engkau mungkin mengira sedang membela kebenaran, padahal tanpa sadar engkau sedang menyakiti hati Rasulullah SAW dengan menyerang keluarganya.


Kami para dzurriyyah bukan manusia suci. Kami bukan tanpa salah. Tapi ketahuilah, bahwa nasab kami bersambung kepada beliau yang engkau sebut setiap shalawatmu: Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala āli Muhammad. Jika engkau ragukan kami, itu hakmu. Tapi jangan ragukan bahwa Rasulullah punya dzurriyyah yang diwarisi secara ilmiah, rohani, dan nasab, dijaga oleh para ulama, ahli nasab, dan umat dari generasi ke generasi.


Engkau menuduh kami sombong karena memakai gelar, padahal kami diajarkan untuk merendah lebih dalam karena kami membawa amanah lebih berat. Engkau menganggap gelar “Habib”, “Sayyid”, atau “Alawiyyin” sebagai budaya asing, padahal gelar itu mengingatkan kami bahwa setiap langkah kami akan ditimbang karena nama yang kami sandang.


Wahai penyeru syubhat,


Apakah engkau lupa bahwa Imam Malik pernah berdiri saat melihat keturunan Nabi memasuki majelisnya? Apakah engkau tidak ingat bahwa para sahabat mencium tangan Sayyidah Fatimah dan mendudukkan Hasan dan Husain di pangkuan mereka karena menghormati darah Rasulullah?


Apakah engkau tidak takut jika kelak Rasulullah berkata kepadamu, “Mengapa engkau menyakiti keluargaku dan mencabut kepercayaan umat kepada mereka?”


Ketahuilah, mencintai Ahlul Bait bukan kultus. Itu adalah perintah Nabi dalam hadits sahih:


“Aku tinggalkan padamu dua perkara yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan tersesat: Kitabullah dan Ahlul Baitku.” (HR. Tirmidzi)


Kami tidak meminta kehormatan. Kami hanya ingin menjaga amanah. Kami tidak gila dipuji. Kami hanya tidak ingin Rasulullah disakiti oleh lidah-lidah yang menghina keluarganya.


Wahai saudaraku,


Jika engkau punya syubhat, datanglah. Duduklah bersama kami. Kita buka kitab nasab. Kita buka lembaran sejarah. Kita duduk dengan adab, seperti para salaf duduk di hadapan ilmu. Jika engkau tetap ingin berbeda pendapat, silakan. Tapi jangan mencederai cinta umat kepada Rasulullah dengan mencabut kehormatan keluarganya.


Kami tidak akan membalasmu dengan caci. Kami hanya akan membalasmu dengan doa:


“Ya Allah, beri dia hidayah. Jika ia bersungguh-sungguh mencari kebenaran, tuntunlah dia. Jika ia menyimpan dengki, lembutkan hatinya. Dan jika ia tetap dalam kesesatan, lindungilah umat dari lisan dan tulisan yang menyesatkan.”


Semoga Allah menjaga lisan-lisan kita, menuntun kita kepada adab terhadap Rasulullah SAW, dan tidak memutuskan cinta kita kepada beliau lewat keturunan beliau yang Allah muliakan.


Wassalāmu ‘alaykum wa raḥmatullāh.


Dari kami yang membawa beban nama Muhammad

Yang tidak minta dipuja, hanya minta dijaga

Keturunan Ahlul Bait Nabi SAW.


Comments

Popular posts from this blog

memutus koneksi spiritual umat Islam dari akar risalah

Bahaya menyerang nasab Habaib Atas dasar Dengki

Menakar Kesahihan Nasab Habib di Indonesia